Archive for the ‘Bebas’ Category

Mendengar dan Mendengarkan

Oleh: Myrs Rethika 7 November 2008 - 3:49 pm Tidak ada komentar

Sebenarnya sih pengen langsung post aja pas setelah mbaca tulisannya Prof.DR.Komaruddin Hidayat beberapa minggu lalu di koran sindo (papahku langganan koran sindo, pagi-pagi udah nyantol di pagar depan, ku baca aja duluan). Bliau nulis tentang  “mendengar dan mendengarkan”, bagus menurut saya. Well, “mendengar” means hearing dan “mendengarkan” means listening atau kalo gampangnya sih sama maknanya dengan menyimak.

“Mendengarkan” digambarkan seperti belajar di kelas dan si murid mendengarkan penjelasan/cerita si guru, sedangkan “mendengar” digambarkan seperti si murid saat belajar di kelas mendengar suara mesin mobil yang sedang melintas di dekat sekolahnya. Spertinya sih, slanjutnya sudah langsung nangkep deh maknanya.

Lalu yang saya sepaham lagi, bliau sampaikan kalau “mendengarkan” itu gak semua orang mudah ato mau melaksanakan. Biasanya yang mau mendengarkan itu profesi dokter atau psikolog, ya memang bagian utama kerjanya nya kan. Nah yang biasanya gak gampang mau mendengarkan adalah orang-orang yang profesi ato kebiasaannya ngasi ceramah or kotbah yang biasa minta didengar audience nya, orang-orang sperti itu biasanya (gak semua lo..dan blm ada pembuktian ilmiahnya juga) susah banget mau “mendengarkan”, ya mungkin biasa (minta) didengar kali ya. Bahaya juga nih jadinya kalo para ustadz ato caleg-caleg yang lagi kampanye cuma bisa berkoar-koar (berpidato,beriklan, dll) dan memberikan ceramah, namun susah banget mau mendengarkan keluhan ato jeritan ato permintaan dari audience nya.

Saya juga jadi interospeksi deh pada diri sendiri dan mengingatkan sekelilingku untuk membudayakan “mau mendengarkan”. Memang sih kalo udah ngasi masukan ato memberikan nasehat atau memberikan cerita pengalaman sebagai pelajaran… duh rasanya pinter sendiri dan seneng deh didengerin. Tapi begitu ada yang memberikan masukan ato ada yang ngeluh ato malah ngasi kritikan…. viewhh…. dulu sih rasanya buang waktu deh, capek deh, tapi dengan kemauan dan ikhlas untuk mendengarkan maka mata hati dan pikiran juga siap untuk menyimak bahkan sampai detil.

Well…. mau kan untuk mendengarkan? Mendengarkan keluhan anak, mendengarkan cerita mama papa udah ngapain aja tadi siang, mendengarkan masukan dari staf ato anak baru di kantor, dan lain lain.

Smoga bisa jadi masukan dan mengingatkan kembali ke teman-teman  ajah.

Thanks.

Kiat menjadi artis sinetron

Oleh: Deddy Satria 5 August 2008 - 3:06 pm 5 Komentar

Mungkin tulisan ini sudah agak basi, karena pasti sudah banyak blog yang membahasnya. Tapi biar aja deh, ditulis lagi buat nambah-nambah postingan biar kelihatan banyak dan aktif :D .

Kalau mau berdiskusi soal sinetron yang banyak ditayangkan di TV setiap hari pasti tidak akan ada habisnya. Dari yang memuji sampai yang mengkritik (baca: mencela) semuanya ada.

Ini adalah beberapa kiat atau tips untuk dapat menjadi artis sinetron di tanah air:

Ekspresi

Ada beberapa jenis ekspresi atau mimik dasar/standar yang harus dikuasai oleh pemain sinetron.

  1. Melotot, pemain sinetron harus bisa menguasai beberapa jenis melotot, karena hampir semua sinetron yang dibuat sepertinya harus ada adegan melotot. Ekspresi melotot ini biasanya dipakai saat adegan-adegan tertentu, misalnya sewaktu seseorang sedang terkejut/kaget (biasanya sambil di zoom-in pada wajahnya) baik saat berdialog langsung dengan orang lain atau berbicara di telepon. Adegan lain yang memakai ekspresi ini adalah disaat marah-marah (kayanya ini sudah menjadi standar adegan sinetron), dimana pada adegan ini pemain harus bisa berbicara nyerocos panjang sambil matanya melotot seakan mau keluar dari tempatnya. (more…)

Kode nomor bus kota di Jakarta

Oleh: Deddy Satria 14 June 2008 - 12:41 pm 3 Komentar

bus kota jakartaBagi mereka yang sering menggunakan jasa transportasi umum di Jakarta pasti sudah hapal dengan nomor rute bus di Jakarta, minimal untuk rute-rute yang sering dilalui.

Tapi kira-kira bagaimana sih sistem penomoran bus di Jakarta? Apakah diberi nomor sesuka hati si pemilik perusahaan bus atau ada cara tertentu untuk membedakan rute-rute dari bus tersebut.

Setelah iseng-iseng mencari baik di dunia nyata ataupun di dunia maya :) ternyata beginilah bagaimana rute bus di Jakarta diatur:

Untuk bus-bus besar reguler seperti PPD atau Mayasari Bakti di beri nomor dengan dua atau tiga angka dengan ketentuan seperti ini:

  • Bus dengan nomor pertama 1 (misalnya 10 atau 102) adalah bus yang berangkat dari terminal Blok M Jakarta Selatan.
  • Bus dengan nomor pertama 2 (misalnya 20 atau 216) adalah bus yang berangkat dari terminal Grogol atau Kalideres Jakarta Barat.
  • Bus dengan nomor pertama 3 (misalnya 30 atau 300) adalah bus yang berangkat dari terminal Rawamangun Jakarta Timur.
  • Bus dengan nomor pertama 4 (misalnya 40 atau 402) adalah bus yang berangkat dari terminal Cililitan (sekarang Kampung Rambutan) Jakarta Timur.
  • Bus dengan nomor pertama 5 (misalnya 50 atau 507) adalah bus yang berangkat dari terminal Pulogadung Jakarta Timur.
  • Bus dengan nomor pertama 6 (misalnya 60 atau 608) adalah bus yang berangkat dari terminal Tanjung Priok Jakarta Utara.
  • Bus dengan nomor pertama 7 (misalnya 70 atau 700) adalah bus yang berangkat dari terminal Kota Jakarta Utara.
  • Bus dengan nomor pertama 8 (misalnya 80 atau 802) adalah bus yang berangkat dari terminal Senen Jakarta Pusat.
  • Bus dengan nomor pertama 9 (misalnya 92 atau 906) adalah bus yang berangkat dari terminal lainnya selain terminal diatas misalnya terminal Kampung Melayu, Manggarai, Tanah Abang, dan lain-lain.
  • Selain menggunakan angka bisa juga ditambahkan dengan kode huruf misanya 9A atau 30A.

(more…)