Oleh: Deddy Satria 31 December 2008 - 4:44 pm
Hari ini (Rabu 31 Desember 2008) iseng-iseng saya coba mencari di google dengan menggunakan keyword salah satu postingan saya yang sudah pernah saya tulis disini yaitu Kiat Menjadi Artis Sinetron (sebenarnya sih ini tulisan gak serius), ternyata hasilnya tulisan dengan judul tersebut menempati urutan pertama dari daftar hasil pencarian google. Bangga saya…
Tapi sewaktu melihat di urutan berikutnya kok sepertinya isi tulisannya mirip ya? Kemudian di klik-lah link yang diperoleh dari hasil pencarian google tadi. Loading sebentar… muncullah sebuah website dengan alamat http://www.entry-indonesia.com, seperti screenshot berikut (sengaja di save, biar ada arsipnya kalau link-nya sudah dihapus ‘yang punya’):

Dari tanggalnya terlihat artikel tersebut di’buat’ pada hari Rabu tanggal 17 September 2008 jam 11:58 WIB, sedangkan postingan saya dibuat pada tanggal 5 Agustus 2008. Terlihat mana yang lebih dulu di buat.
Bisa dilihat (boleh dari link diatas atau dari screen shot) judul dan isinya di ’sesuaikan’, hanya saja sangat tidak kreatif , pada judulnya kata ‘kiat’ dihilangkan dan pada artikelnya sendiri paragraf terakhir juga dihilangkan. Selain itu ya… copy-paste.
Sebenarnya tidak masalah kalau tulisan saya itu di tampilkan baik sebagian atau seluruhnya didalam sebuah website ataupun media lainnya. Tetapi dalam etika penulisan content sebuah website bukankah seharusnya sumber tulisan tersebut dituliskan juga? (biar tambah ngetop..
).
Apalagi setelah melihat footer dari website tersebut tertulis: Hak Cipta © 2008. Entry Indonesia, PT. Rajawali Media Nusantara. Ternyata untuk membuat website dengan tulisan hasil copy-paste harus sebuah PT.
Creativity is dead.
Tags: artikel co-pas, artikel copy paste, artikel tiruan, copy paste content blog, copy paste content web, creativity is dead, entry-indonesia.com copy-paste Posted in Bebas
Oleh: Myrs Rethika 7 November 2008 - 3:49 pm
Sebenarnya sih pengen langsung post aja pas setelah mbaca tulisannya Prof.DR.Komaruddin Hidayat beberapa minggu lalu di koran sindo (papahku langganan koran sindo, pagi-pagi udah nyantol di pagar depan, ku baca aja duluan). Bliau nulis tentang “mendengar dan mendengarkan”, bagus menurut saya. Well, “mendengar” means hearing dan “mendengarkan” means listening atau kalo gampangnya sih sama maknanya dengan menyimak.
“Mendengarkan” digambarkan seperti belajar di kelas dan si murid mendengarkan penjelasan/cerita si guru, sedangkan “mendengar” digambarkan seperti si murid saat belajar di kelas mendengar suara mesin mobil yang sedang melintas di dekat sekolahnya. Spertinya sih, slanjutnya sudah langsung nangkep deh maknanya.
Lalu yang saya sepaham lagi, bliau sampaikan kalau “mendengarkan” itu gak semua orang mudah ato mau melaksanakan. Biasanya yang mau mendengarkan itu profesi dokter atau psikolog, ya memang bagian utama kerjanya nya kan. Nah yang biasanya gak gampang mau mendengarkan adalah orang-orang yang profesi ato kebiasaannya ngasi ceramah or kotbah yang biasa minta didengar audience nya, orang-orang sperti itu biasanya (gak semua lo..dan blm ada pembuktian ilmiahnya juga) susah banget mau “mendengarkan”, ya mungkin biasa (minta) didengar kali ya. Bahaya juga nih jadinya kalo para ustadz ato caleg-caleg yang lagi kampanye cuma bisa berkoar-koar (berpidato,beriklan, dll) dan memberikan ceramah, namun susah banget mau mendengarkan keluhan ato jeritan ato permintaan dari audience nya.
Saya juga jadi interospeksi deh pada diri sendiri dan mengingatkan sekelilingku untuk membudayakan “mau mendengarkan”. Memang sih kalo udah ngasi masukan ato memberikan nasehat atau memberikan cerita pengalaman sebagai pelajaran… duh rasanya pinter sendiri dan seneng deh didengerin. Tapi begitu ada yang memberikan masukan ato ada yang ngeluh ato malah ngasi kritikan…. viewhh…. dulu sih rasanya buang waktu deh, capek deh, tapi dengan kemauan dan ikhlas untuk mendengarkan maka mata hati dan pikiran juga siap untuk menyimak bahkan sampai detil.
Well…. mau kan untuk mendengarkan? Mendengarkan keluhan anak, mendengarkan cerita mama papa udah ngapain aja tadi siang, mendengarkan masukan dari staf ato anak baru di kantor, dan lain lain.
Smoga bisa jadi masukan dan mengingatkan kembali ke teman-teman ajah.
Thanks.
Tags: mendengarkan, Prof.DR.Komaruddin Hidayat Posted in Bebas
Oleh: Deddy Satria 5 August 2008 - 3:06 pm
Mungkin tulisan ini sudah agak basi, karena pasti sudah banyak blog yang membahasnya. Tapi biar aja deh, ditulis lagi buat nambah-nambah postingan biar kelihatan banyak dan aktif
.
Kalau mau berdiskusi soal sinetron yang banyak ditayangkan di TV setiap hari pasti tidak akan ada habisnya. Dari yang memuji sampai yang mengkritik (baca: mencela) semuanya ada.
Ini adalah beberapa kiat atau tips untuk dapat menjadi artis sinetron di tanah air:
Ekspresi
Ada beberapa jenis ekspresi atau mimik dasar/standar yang harus dikuasai oleh pemain sinetron.
- Melotot, pemain sinetron harus bisa menguasai beberapa jenis melotot, karena hampir semua sinetron yang dibuat sepertinya harus ada adegan melotot. Ekspresi melotot ini biasanya dipakai saat adegan-adegan tertentu, misalnya sewaktu seseorang sedang terkejut/kaget (biasanya sambil di zoom-in pada wajahnya) baik saat berdialog langsung dengan orang lain atau berbicara di telepon. Adegan lain yang memakai ekspresi ini adalah disaat marah-marah (kayanya ini sudah menjadi standar adegan sinetron), dimana pada adegan ini pemain harus bisa berbicara nyerocos panjang sambil matanya melotot seakan mau keluar dari tempatnya. Baca selengkapnya… »
Tags: melotot, sinetron Posted in Bebas